Rabu, 22 Oktober 2008

Sedikit

Aku sedikit. Hanya sedikit.
Sedikit aneh, sedikit gila, sedikit kurangajar, sedikit brengsek, sedikit sombong, sedikit jelek, sedikit gemuk, sedikit hitam, sedikit pelit, sedikit bodoh, sedikit lamban, sedikit malas, sedikit genit, sedikit-sedikit bokek, sedikit-sedikit sakit, sedikit orang seperti aku di dunia ini.
Hanya sedikit.

Jumat, 17 Oktober 2008

Sakit yang Tanggung

Aku sakit sejak beberapa hari lalu. Sampai hari ini pun. Sebenarnya cuma penyakit sepele yang datang kira-kira lima hari berturut-turut. Hari pertama aku diserang migren, hari kedua dan ketiga demam, lalu batuk sampai hari ini. Benar, penyakitku lebih dari satu. Maksudku, penyakit-penyakitku lebih dari satu. Dan itulah yang membuat mereka tak bisa disepelekan lagi.

Selama sehari, tubuhku bisa dikuasai oleh satu macam penyakit. Selanjutnya penyakit itu berganti tiba-tiba, entah dengan cara apa, menjadi sakit yang baru. Sebuah pergantian terasa seperti sebuah kudeta. Tubuhku tak ubahnya Negara, lengkap dengan penyakit-penyakit yang pintar berpolitik. Mereka saling berebut ruangan mana pun yang bisa dikuasai. Ketika satu macam penyakit sedang menikmati kekuasaannya, penyakit lain datang menjawil-jawil jahil, seolah memberi peringatan akan keberadaannya sebagai oposisi.

Hari pertama dimulai ketika aku pulang dari sebuah mall di pusat kota Makassar. Aku sadar, mall adalah salah satu pelabuhan tersibuk bagi bibit-bibit penyakit dari seluruh penjuru kota. Puluhan Air Conditioner membantu milyaran debu berkamuflase sebagai udara sejuk. Tak ada yang tahu hal itu, kecuali hidung-hidung sensitif yang kelimpungan mencari sisa-sisa udara segar. Aku adalah pemilik satu dari beberapa hidung sensitif tersebut. Hidung sensitifku yang berbulu lebat barangkali masih mampu bertahan dari debu, tapi tidak dari bibit-bibit penyakit yang halus dan gesit. Hasilnya, aku pulang membawa gempuran palu berdentum-dentum di bagian kiri kepalaku.

Migren sebenarnya bukanlah pengalaman yang mengerikan. Aku teramat kerap mengalami dan terlalu tahu apa yang mesti diperbuat guna menjinakkan penyakit ini. Sekeping tablet, sekali tenggak, lalu tidurlah dengan nyaman. Sore itu aku tertidur, tapi malamnya aku begadang, dan esok paginya aku bangun dengan tubuh menggigil. Demam.

Demam yang aneh. Bulir-bulir peluh dingin merembesi setiap inci kulit atau tempat mana pun yang memiliki pori-pori, tapi suhu tubuhku tak kunjung menanjak. Aku memutuskan tetap masuk kuliah meski harus mencari tempat duduk paling jauh dari AC. Sepanjang ceramah dosen aku mengatup ujung-ujung jaket kuat-kuat, seakan-akan di sekujur tubuhku ada belasan bom yang siap meledak. Beruntung aku masih memiliki persediaan obat turun panas yang langsung kusambar sekembalinya dari kampus.

Wahai teman-teman anak-anak kedokteran, kesalahanku tidak begitu fatal, bukan? Aku tidak sakit panas, tapi ngotot minum obat turun panas.

Saat demamku agak mereda, tiba-tiba muncul masalah baru; rasa gatal di tenggorokan. Rasa gatal yang coba kuhilangkan dengan permen mentol tapi tak juga mempan. Rasa gatal yang membuat aku berhenti merokok selama dua hari. Rasa gatal yang kemudian berubah menjadi batuk yang menyiksa.

Maka di hari terakhir aku pun menenggak sirup batuk. Tiga macam sirup batuk dengan merek berbeda. Oh, Tuhan, semoga aku tak menjadi maniak obat! (tapi kalau terlanjur, tolong jodohkan aku dengan seorang apoteker!)

Selain beberapa gangguan seperti dahak yang menjijikkan, suara parau dan tidur yang terinterupsi, batukku sekarang sebenarnya sudah tak begitu mengganggu. Hanya saja aku khawatir dengan penggunaan obat yang berlebihan. Efek yang kurasakan seusai minum obat selalu sama; kantuk, saraf-saraf yang seolah terurai, dan ujung-ujung jari yang bergerak-gerak sendiri.

Perkara lain yang mengganggu adalah perkara klimaks. Sejak menyimak petuah seorang dokter dalam sebuah iklan layanan masyarakat, aku menjadi percaya setiap penyakit niscaya memiliki klimaks berupa rasa sakit yang benar-benar sakit, sebelum perlahan-lahan menuju kesembuhan yang melegakan. Sialnya, penyakit-penyakitku sepertinya tak memiliki klimaks. Tanggung. Padahal selama sakit aku menunggu klimaks dari penyakit-penyakitku itu. Alhasil aku merasakan dua macam rasa sakit berbeda. Yang pertama adalah sakit karena penyakit itu sendiri, dan kedua adalah rasa sakit karena menunggu klimaks yang tak kunjung datang.

Mungkin aku terlalu melebih-lebihkan soal sakit sebab menunggu itu. Tapi aku yakin menunggu menjadi begitu sakit karena ada banyak harapan dibebankan pada sebuah proses menunggu. Bertambah sakit ketika proses menunggu itu menjadi lebih panjang dari yang diperkirakan sebelumnya. Mungkin seperti orang-orang tua yang tak tahan menunggu pembagian BLT, pasien ASKES dan GAKIN yang mengantre panjang di rumah sakit, rakyat yang menunggu kapan Negara kita bisa sejahtera atau setidaknya tim sepakbolanya bisa berlaga di Piala Dunia. Benar, aku terlalu melebih-lebihkan soal menunggu. Padahal aku telah teramat akrab dengan perkara menunggu, telingaku terlalu terbiasa akan janji, dan jiwaku sepertinya telah menjadi sinis memandang harapan.

Semalam aku berupaya menutup rasa sakitku dengan sesuatu yang menyenangkan. Membaca buku sambil mendengarkan musik. Dengan otak yang masih dipengaruhi campuran obat migren, obat turun panas dan sirup batuk, aku membaca bagian terakhir The Heart is A Lonenly Hunter sambil mendengarkan Bella Luna yang kuputar berulang-ulang. Aku berharap bisa tertidur dan bermimpi sedang menyusuri sepanjang jalanan Havana yang dipenuhi cerutu, jazz dan mobil-mobil tua. Tapi alih-alih tertidur, hatiku malah mengembara seperti pemburu yang kesepian.

Postingan Pertama


Beberapa hari lalu aku melihat seseorang mengenakan kaus oblong yang bertuliskan:

I promise ….

I will not use comic sans, I will not use comic sans,
I will not use comic sans, I will not use comic sans,
I will not use comic sans, I will not use comic sans,
I will not use comic sans, I will not use comic sans,
I will not use comic sans, I will not use comic sans,

Forever….

Hehehe, sebuah catatan yang tak begitu penting.

Di blog ini, sepertinya aku bisa menggunakan Comic Sans. Dan berhubung ini postingan pertama aku ucapkan selamat bagi siapa pun yang membacanya.

?